CCTV Hotel Ungkap Motif Utama

Kamis, 07 Mei 2009
JPNN, Jakarta
Polisi terus memeriksa Antasari Azhar. Tersangka kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen itu kemarin diperiksa selama
7,5 jam. Antasari dicecar 48 pertanyaan.
Antasari dibawa keluar dari rutan narkoba ke ruang pemeriksaan di gedung utama Direktorat Narkoba pukul 13.00 dan berakhir pukul 20.30.
”Masih pendalaman-pendalaman,” ujar kuasa hukumnya Juniver Girsang usai mendampingi kliennya. Menurut Juniver, Antasari ditanya soal perkenalan-perkenalan dengan Rani, Sigid, dan Wiliardi. ”Ditanya soal hubungan-hubungan,” katanya.
Usai diperiksa tadi malam, istri Antasari Ida Laksmiwati menjenguk suaminya membawa keripik dan buku-buku bacaan. Dia didampingi pengacara Ari Yusuf Amir.
Menurut informasi yang dihimpun koran ini, dalam pemeriksaan kemarin polisi lebih fokus pada isi pertemuan di Grand Mahakam yang terjadi sekitar Mei 2008. Pertemuan  itu menjadi salah satu kunci utama untuk mengungkap motif pembunuhan yang sebenarnya.
”Apa yang diucapkan AA kepada Rani, apa yang diucapkan pada Nasrudin, itu yang sedang dikembangkan,” ujar seorang polisi yang menangani kasus itu.
Salah satu cara pengungkapannya dengan memeriksa rekaman CCTV (closed circuit television) milik pengelola hotel. ”Itu sudah berada di tangan polisi, dari sana akan ketahuan berapa lama pertemuannya dan apa saja yang terjadi,” katanya.
Kubu Antasari tidak membantah pertemuan di hotel yang letaknya tak jauh dari Gedung Bundar Kejaksaan Agung itu. ”Pak Antasari sudah datang duluan di hotel itu karena menunggu tamunya,” kata pengacara M Assegaf usai mendampingi kliennya diperiksa.
Tamu itu, kata Assegaf, dua orang yang diaku sebagai guru spiriritual Antasari Azhar. ”Namanya saya lupa. Yang jelas, mereka orang dari Padang,” kata mantan pengacara Soeharto itu.
Saat Antasari dalam posisi menunggu, tiba-tiba Rani mengirim pesan singkat SMS. ”Dia minta ketemu untuk menawarkan program golf,” katanya. Tak berapa lama, Nasrudin juga menghubungi ingin ketemu.
”Nasrudin hendak menyerahkan dokumen tentang korupsi di sebuah BUMN,” ujar Juniver Girsang. BUMN mana, Juniver tak bersedia terbuka. ”Itu akan diungkapkan nanti,” katanya.
Menurut Assegaf, karena kebetulan sedang berada di Grand Mahakam, Antasari setuju untuk bertemu. ”Naik saja ke atas,” ujar Assegaf menirukan penjelasan kliennya. Saat itu, Rani datang lebih dulu. Selang sepuluh menit kemudian Nasrudin datang ke kamar. ”Pintu dibiarkan terbuka. Jadi, apa mungkin terjadi sesuatu seperti yang disebut-sebut itu (perselingkuhan),” kata Assegaf.
Motif utama pembunuhan Nasrudin memang diduga berasal dari pertemuan itu. Nasrudin menggunakan pertemuan itu sebagai daya tawar pada Antasari untuk menindaklanjuti laporan korupsinya. Diduga, Antasari tak tahu jika Rani sudah dinikahi secara sirri oleh Nasrudin”Tolong dilogika, apa mungkin pintu terbuka ada yang disembunyikan. Pak Antasari juga sedang menunggu tamu,” kata Assegaf.
Polisi tidak mempermasalahkan jawaban Antasari karena sudah merasa punya bukti kuat untuk mengungkap kasus ini. ”Tinggal menunggu waktu untuk dibuka saja,” ujar seorang polisi.
Kemarin, wartawan koran ini berusaha menelusuri lokasi kamar 808 Hotel Grand Mahakam yang diduga menjadi tempat pertemuan Antasari dan Rani. Tidak sulit untuk mencarinya. Kamar itu bercat putih dengan nomor plat berwarna keemasan.  Penjagaan di hotel itu cukup ketat. Selain kamera CCTV yang dipasang di setiap sudutnya, petugas hotel juga berjaga dan berkeliling secara berkala.
Kamar tempat pertemuan berada di sisi kiri. Begitu ke luar dari lift, terdapat lorong yang menuju ke kiri dan kanan. Kamar nomor 808 berada di lorong sisi kiri berurutan dari nomor 801 hingga 808. Sementara di lorong sebelah kanan terdapat kamar 819 - 830. Kamar di hotel bintang lima di kawasan blok M itu ada mulai di lantai 2. Total kamarnya berjumlah 156 buah. Selain itu juga terdapat pilihan ruang serbaguna. Restoran terdapat di lantai M, di atas lobi hotel.
Pendalaman motif pembunuhan oleh penyidik memang perlu untuk melengkapi berkas. Apalagi, para tersangka disangka dengan pasal 340 yakni pembunuhan berencana yang membutuhkan bukti-bukti yang detail dan lengkap.
Kapolri Jendral Bambang hendarso Danuri juga sudah memerintahkan agar penyidik benar-benar  teliti. ”Apakah dengan sesederhana itu harus ada yang hilang nyawa,” kata Bambang Hendarso di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta kemarin.
Bambang Hendarso merasa yakin penyidik bisa menuntaskan kasus pembunuhan Nasrudin. “Penyidik dengan ketelitiannya mampu mengungkap jaringan sampai aktor intelektual,” katanya. Terkait keterlibatan oknum polisi, Komisaris Besar Williardi Wizar, Bambang Hendarso mengatakan polisi akan bertindak tegas, “Siapapun yang melanggar hukum kita tindak. Kalau ada anggota Polri yang terlibat apapun tindak pidana, akan kita tindak,” katanya.
Komisaris Besar Wiliardi Wizar saat ini sudah dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Subbidang Pariwisata Direktorat Pengamanan Objek Khusus Babinkam Polri. ”Sudah, sekarang sudah tidak punya jabatan lagi,” katanya.
Pemberhentian Antasari
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pagi ini akan menandatangani keppres pemberhentian sementara Ketua KPK Antasari Azhar. Staf Khusus Presiden bidang Hukum Denny Indrayana mengatakan tadi malam, draf keppres tersebut baru diserahkan ke presiden. ”Insya Allah kami pagi akan ditandatangani,” kata Denny Indrayana kemarin.
Sebelum memulai rapat kabinet di kantor presiden kemarin SBY meminta tim hukumnya melakukan kajian dan penelitian secara tepat terhadap UU KPK terkait dengan akan dikeluarkannya Keppres pemberhentian sementara ketua KPK.
Menurut SBY, mensesneg telah melaporkan kasus tersebut. ”Sudah ada surat dari Kapolri yang baru saja masuk untuk status dari saudara Antasari yang diduga terlibat dalam murder case,” kata SBY.  Selain itu, SBY meminta aparat penegak hukum bisa terus dijalankan dengan baik, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
”Mari kita biasakan kita bekerja, atas sistem dan UU yang berlaku dan bukan karena tekanan siapa itu. Agar akuntabel apapun yang kita lakukan,” kata SBY. ***

Sumber: batampos.co.id