Cegah Pelecehan Penumpang Busway,Kaum Hawa Minta Pengelola Pasang CCTV

JAKARTA (Pos Kota) – Aksi pelecehan yang dilakukan salah satu penumpang busway, Anton, terhadap Foni, penumpang lainnya menjadi trauma tersendiri bagi kaum hawa yang biasa menggunakan jasa moda angkutan massal tersebut. Mereka mendesak pihak pengelola untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan diantaranya melalui pemasangan Closed Circuit Television (CCTV) dan penambahan petugas di dalam bus.

Alasannya aksi pelecehan terhadap kaum perempuan di dalam angkutan milik Pemprov DKI ini kerap tidak dapat dilanjutkan ke langkah hukum lantaran minimnya bukti. Seperti yang dialami Foni, saat laporannya terhadap Anton, tidak dapat ditindaklanjuti karena tidak adanya bukti. “Setidaknya jika ada CCTV penumpang akan merasa diawasi dan akan mempersempit ruang gerak bagi pelaku kejahatan. Meski alat ini tidak berfungsi secara maksimal,” ujar Lenny, seorang penumpang busway yang ditemui Rabu (9/6).

Langkah antisipasi lainnya yakni melalui penambahan petugas di dalam bus. Jika saat ini hanya bertugas di depan pintu bus, penempatan petugas semestinya juga dilakukan di bagian belakang bus. “Jika ini tidak  juga dilakukan terpaksa kami cari alternatif angkutan lain atau kembali menggunakan kendaraan pribadi,” sambungnya. Pernyataan teresebut beralasan lantaran kasus yang menimpa Foni diprediksi hanya satu dari banyak kasus yang di moda angkutan massal ibukota. Namun kebanyakan kaum perempuan lebih memilih tidak melanjutkan aksi kejahatan seksual tersebut kepada polisi karena malu ataupun takut.

Secara terpisah, Aliman Aat, Anggota Komisi B DPRD DKI, mengaku setuju dengan usulan masyarakat tersebut. Namun pemasangan CCTV juga harus diikuti dengan sistem manajemen yang profesional. Terutama terkait pengoperasian seperti jarak tempuh antarbus. Sehingga penumpukan dan kepadatan penumpang tidak terjadi baik saat berada di halte maupun di dalam bus. “Masalah ini jangan dianggap remeh dan harus segera ditindaklanjuti karena dikhawatirkan misi busway untuk memberikan pelayanan angkutan yang aman dan nyaman kepada masyarakat tidak akan optimal,” ujar politisi Partai Demokrat ini.

Menanggapi hal ini Gunarjo, Kepala Bidang Pengendalian Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta, mengatakan dalam hal pengamanan hingga saat ini baru dapat melakukannya melalui pembatasan jumlah penumpang. Menyusul adanya usulan pemasangan CCTV di dalam bus, dikatakan Gunardjo hal itu belum dibahas pihaknya.

Sedangkan mengenai belum optimalnya pengoperasian busway di delapan koridor khususnya masalah jarak antar bus (head way), Gunardjo tidak menampiknya. Kondisi ini terjadi dikarenakan masih minimnya sarana bagi angkutan khusus ini. Salah satunya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang masih minim. Akibat untuk mengisi bahan bakar setiap armada memakan banyak waktu. Padahal armada yang ada telah cukup memadai yakni sebanyak 426 unit di delapan koridor.

”Artinya jika semua sarana telah terpenuhi, idealnya setiap halte telah siap tiga bus. Sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang,” tukasnya.(guruh/sir)

Sumber: poskota.co.id